Metode solving ini dimaksudkan sebagai metode Beginner untuk cube 3x3x2. Oleh karenanya metode ini dibuat sedikit identik dengan metode “Layer by Layer” agar lebih mudah dipahami. Karena hampir setiap cuber pasti pernah mempelajari, paham maupun sekedar tahu metode tersebut pada awal mula belajar solving Rubik’s cube.
Untuk membedakan antara metode ini dengan pelbagai macam metode solving lainnya, maka saya akan memberikan metode ini sebuah nama, yaitu FTL atau First then Last layer. Pengertian dari penamaan tersebut adalah dengan menggunakan metode ini maka solving akan dilakukan dengan 2 tahapan, yaitu menyelesaikan layer pertama (first layer) kemudian dilanjutkan dengan menyelesaikan layer kedua atau layer terakhir (last layer). Oleh karenanya cara solving cube ini pun akan sedikit berbeda dengan solving Rubik’s cube (3x3x3).
Metode FTL ini terdiri dari beberapa langkah, yaitu Cross, Corner, [Parity] dan Permute Last Layer (selanjutnya disebut PLL). Akan tetapi dengan menggunakan metode ini kita akan menemui situasi yang tidak pernah kita jumpai pada Rubik’s cube, yang biasa disebut dengan Parity case. Dimana kemungkinan munculnya Parity case tersebut diperkirakan sebesar 20%, artinya dari sepuluh (10) kali solving Parity case akan muncul hanya sebanyak dua (2) kali.
Penjelasan lebih lanjut mengenai metode FTL ini akan saya coba jelaskan sebagai berikut:
“FIRST LAYER”
Cross
Pada tahap ini kita bertujuan untuk membuat cross (tanda “plus”) pada bagian Top layer seperti pada halnya Cross pada solving Rubik’s cube. Tidak ada penjelasan mendetail mengenai tahap ini karena saya rasa kurang perlu untuk dijelaskan. Karena tahap ini sepenuhnya dapat diselesaikan secara intuitif. Pada umumnya seorang cuber akan membuat cross pada bagian layer putih.
Corner
Pada tahap ini kita bertujuan untuk menempatkan setiap corner pieces pada posisi seharusnya dari masing-masing corner. Sehingga kita akan memperoleh keadaan cube layer berwarna putih sudah solve. Akan tetapi pertama-tama kita harus membalik posisi cube terlebih dahulu agar layer berwarna putih yang sebelumnya berada di atas (Top layer) menjadi di bawah (Bottom layer) dengan cara memutar cube 180 derajat.
Ada dua (2) algoritma yang dapat digunakan untuk menyelesaikan tahap ini, yaitu:
(a). Kanan atas menuju kanan bawah (up right to down right)
Memasukkan corner Putih Merah Hijau yang berada pada posisi kanan depan atas (Up Right Front, URF) ke posisi kanan depan bawah (Down Right Front, DRF).
Algortima-nya adalah sebagai berikut:
R2 U R2 U’ R2
(b). Kiri atas menuju kiri bawah (up left to down left)
Memasukkan corner Putih Merah Biru yang berada pada posisi kiri depan atas (Up Left Front, ULF) ke posisi kiri depan bawah (Down Right Front, DRF).
Algoritma-nya adalah sebagai berikut:
L2 U’ L2 U L2
Setelah melakukan langkah-langkah diatas maka first layer telah terselesaikan, silahkan lanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu Last Layer.
“LAST LAYER”
Pada tahap last layer ini bertujuan untuk menyelesaikan top layer atau layer berwarna kuning sehinnga akan diperoleh kondisi cube solved.
Permutation of Last Layer (PLL)
Pada tahap ini yang merupakan langkah terakhir kita hanya perlu melakukan salah satu algoritma dari setiap kasus yang mungkin muncul. Jadi kita hanya perlu belajar dengan menghapalnya terlebih dahulu untuk kemudian belajar mengenali pola (pattern recognition) setiap pola PLL dari dua puluh satu (21) pola PLL yang ada, agar kita dapat secepat mungkin melakukan eksekusi algoritma PLL tersebut. Namun karena metode ini bertujuan sebagai metode Beginner maka kita hanya perlu melatih empat (4) algoritma PLL dari total 21 PLL, yaitu algoritma U(a); U(b); A(a) dan (Ab).
| PLL |
Algoritma |
|
| U (a) |
R2 U2 (B2 L2) (F2 D’ F2) (L2 B2) U R2 |
CCW |
| U (b) |
R2 U’ (B2 L2) (F2 D F2) (L2 B2) U2 R2 |
CW |
| A (a) |
B2 (U L2) (U’ R2) (U L2) (U’ R2) B2 |
CW |
| A (b) |
B2 (R2 U) (L2 U’) (R2 U) (L2 U’) B2 |
CCW |
| H |
(M2 U M2) U2 (M2 U M2) |
|
| Z |
M2 U’ (M2 F2 M2 F2) U M2 |
EDGE CYCLE CCW |
| E |
U2 (R2 U F2) U2 F2 (R2 U F2) U F2 U2 (R2 U’ R2) |
|
| F |
(R2 U R2 U R2 U’) F2 D2 B2 L2 (D’ B2 D’) F2 U2 |
|
| V |
R2 U F2 D2 (L2 U’ L2) D F2 (L2 U2 L2) D R2 U’ |
|
| Y |
(R2 U’ R2 U) (L2 U L2 U2) (R2 U R2 U) (L2 U’ L2 U’) |
|
| T |
R2 U (R2 U’ R2 U’) D (R2 U’ R2 U R2) D’ |
|
| J (a) |
(R2 U’ R2) (D R2 D’) (F2 U F2) R2 U |
L SHAPE ON THE LEFT |
| J (b) |
(R2 U R2) (D’ R2 D) (B2 U’ B2) R2 U’ |
UPSIDE DOWN L SHAPE ON THE LEFT |
| R (a) |
U2 (F2 U’ F2 U’) F2 U2 L2 U R2 (D’ B2 L2 D) R2 |
2 ON THE RIGHT |
| R (b) |
U2 (F2 U F2 U) F2 U2 R2 U’ L2 (D B2 R2 D’) L2 |
2 ON THE LEFT |
| N (a) |
F2 (R2 U2 R2 U’ R2) y’ R2 U2 R2 U’ y (R2 U2) F2 U |
|
| N (b) |
B2 (R2 U2 R2 U R2) B2 U2 B2 U (R2 U2) B2 U’ |
|
| G (a) |
(R2 F2) B2 D (L2 U’ L2 U) B2 D’ (F2 R2) U |
|
| G (b) |
B2 R2 (D L2 D’ L2) (U L2 U’ L2) R2 B2 U |
|
| G (c) |
(R2 F2) B2 D’ (L2 U L2 U’) F2 D (B2 R2) U |
|
| G (d) |
F2 R2 (D’ L2 D L2) (U’ L2 U L2) R2 F2 U’ |
[ Parity ]
Parity yang dimaksud dalam metode ini adalah suatu kondisi dimana pola Last layer yang muncul bukan merupakan salah satu pola dari dua puluh satu pola (21) PLL yang akan disebutkan kemudian pada bagian PLL. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya kemungkinan munculnya Parity case tersebut diperkirakan sebesar 20%, artinya dari sepuluh (10) kali solving Parity case akan muncul hanya sebanyak dua (2) kali. Untuk menyelesaikan tahap ini kita hanya perlu melakukan satu (1) algoritma sederhana sebagai berikut:
R2 U2 R2 U2 R2